Senin, 16 Agustus 2010

KADAR AIR BENIH

I.    TUJUAN
a.    Mengetahui kadar air benih padi, kedelai dan jagung yang diukur dengan timbangan elektrik dan dole moisture tester
b.    Mengetahui kadar air benih padi, kedelai dan jagung dengan perlakuan oven

II.    TINJAUAN PUSTAKA
Penentuan kadar air benih dari suatu kelompok benih sangat penting untuk dilakukan. Karena laju kemunduran suatu benih dipengaruhi pula oleh kadar airnya. (Sutopo, 1984)
Di dalam batas tertentu, makin rendah kadar air benih makin lama daya hidup benih tersebut. Kadar air optimum dalam penyimpanan bagi sebagian besar benih adalah antara 6%-8%. Kadar air yang terlalu tinggi dapat menyebabkan benih berkecambah sebelum ditanam. Sedang dalam penyimpanan menyebabkan naiknya aktifitas pernafasan yang dapat berakibat terkuras habisnya bahan cadangan makanan dalam benih. Selain itu merangsang perkembangan cendawan patogen di dalam tempat penyimpanan. Tetapi perlu diingat bahwa kadar air yang telalu rendah akan menyebabkan kerusakan pada embrio. (Mugnisjah, 1990)

Berat minimal contoh uji untuk analisa kadar air adalah 100 gram. Dibungkus terpisah dari contoh benih untuk pengujian viabilitas. Untuk mencegah terjadinya perubahan kadar air benih selama pengiriman ke laboratorium, maka contoh benih harus dimasukkan ke dalam kantong aluminium, kaleng atau botol yang tertutup rapat. Contoh harus segera dikirimkan dan analisa harus secepat mungkin dikerjakan. Penentuan kadar air dikerjakan secara duplo. Perbedaan hasil antar ulangan tidak boleh lebih besar dari 0,2%. Apabila didapati perrbedaan hasil yang lebih besar maka analisa harus diulang kembali. (Sutopo, 1984)

Sebelum analisa dilakukan, contoh benih harus diaduk dengan menggunakan alat pengaduk di dalam kaleng atau botol asalnya. Pengadukan dimaksudkan untuk mendapatkan contoh uji yang homogen. Untuk benih-benih tertentu misal wortel atau benih-benih yang banyak tercampur kotoran sukar diaduk dalam wadah asalnya. Oleh karena itu harus diaduk di atas baki pencampur dan dikerjakan secepatnya. Kadar air benih harus dilporkan beserta metode yang dipergunakan. (Kamil, 1986)

Benih merupakan material yang higroskopis, memiliki susunan yang kompleks dan heterogen. Air merupakan bagian yang fundamental terdapat demikian rupa dalam benih, artinya terdapat di setiap bagian dalam benih. Kadar air benih karena keadaan yang higroskopis itu tergantung pada lembab relatif dan temperatur. Lembab relatif dan temperatur demikian menentukan dalam adanya tekanan uap dalam benih dan dalam udara di sekitarnya. Apabila tekanan uap dalam benih ternyata lebih besar daripada tekanan udara di sekitarnya, maka uap air akan menerobos dan keluar dari dalam benih. Sebaliknya jika tekanan uap air di luar benih lebih tinggi, maka uap akan menerobos masuk ke dalam benih. Dan apabila tekanan uap di dalam benih sama kuatnya dengan tekanan uap di luar benih, maka dalam keadaan demikian tidak akan terjadi pergerakan uap serta dalam keadaan demikian inilah terjadinya kadar air yang seimbang. (Katrasapoetra, 1986)

Umumnya pada tanaman legume dan padi-padian, ovule atau tepatnya embryosac yang sedang mengalami proses fertilization mempunyai kadar air kira-kira 80%. Dalam beberpa hari kemudian kadar air ini meningkat sampai kira-kira 85%, lalu pelan-pelan menurun secara teratur. Dekat kepada waktu masak kadar air ini menurun dengan cepat sampai kira-kira 20% pada biji tanaman serealia. Setelah tercapai berat kering maksimum daripada biji, kadar air tersebut agak konstan sekitar 20% tetapi sedikit naik turun seimbang dengan keadaan lingkungan di lapangan. Angka kadar air ini agak tinggi di daerah tropis oleh karena kelembaban udara di daerah ini lebih tinggi, yaitu rata-rata 75%. (Kamil, 1986)


Komposisi kimia benih mempengaruhi kadar air keseimbangan benih dengan lingkungannya. Hal ini tidak lain karena benih bersifat higroskopis.
Karena itu benih akan menyerap kelembaban dari atau melepaskan kelembaban yang dimilikinya kepada atmosfer di sekelilingnya sampai terjadi suatu keseimbangan antara kadar air benih dengan kelembaban relatif dari atmosfer lingkungan. Jumlah kelembaban dalam benih pada saat keseimbangan itu berkaitan langsung dengan komposisi kimia benih. Kadar air keseimbangan benih berpati tinggi, jagung lebih tinggi daripada yang dicapai oleh benih berminyak tinggi, kedelai. Hal ini masu akal karena minyak atau lemak tidak dapat bercampur dengan air. Karena itu, jika kadar air benih jagung atau kedelai seberat 100 g diukur, maka mengingat perbedaan dalam kandungan  minyak antar keduanya akan didapatkan bahwa kira-kira 96% dari bahan jagung akan menyerap air, sedangkan pada kedelainya hanya kira-kira 80%. Jadi, total jumlah kelembaban dalam jagung lebih tinggi daripada yang ada dalam kedelai. (Mugnisjah, 1990)

III.    ALAT DAN BAHAN
a.    Benih padi
b.    Benih kedelai
c.    Benih jagung
d.    Timbangan elektrik
e.    Dole moisture tester
f.    Oven
g.    Kantong kertas

IV.    PROSEDUR KERJA
a.    Dengan timbangan elektrik dan dole moisture tester
1.    Menyiapkan benih padi, kedelai dan jagung
2.    Mengukur kadar air benih padi dengan menggunakan timbangan elektrik
3.    Mengukur kadar air benih kedelai dan jagung dengan menggunakan dole moisture tester


b.    Dengan oven
1.    Menyiapkan benih padi 20 gr, kedelai 100 biji dan jagung 20 biji. Masing-masing 3 ulangan
2.    Masing-masing benih dimasukkan ke dalam kantong kertas
3.    Kantong-kantong kertas tersebut dimasukkan ke dalam oven 700 C selama 48 jam
4.    Setelah 48 jam, dikeluarkan dari oven dan ditimbang
5.    Menghitung kadar air masing-masing benih dengan rumus:
     Ka = BB awal – BB akhir
                      BB awal

V.    HASIL DAN PEMBAHASAN

Pada praktikum kadar air benih ini ,cara menentukan kadar air benih padi, kedelai dan jagung menggunakan dua cara yaitu dengan timbangan elektrik dan dole moisture tester serta dengan metode oven. Pada benih padi kadar air benihnya diukur dengan menggunakan timbangan elektrik. Setelah dilakukan pengukuran sebanyak 3 ulangan diperoleh data bahwa rerata kadar air benih padi adalah 14,6% sementara itu pada benih jagung dan kedelai yang diukur kadar airnya dengan menggunakan dole moisture tester setelah dilakukan pengulangan sebanyak tiga kali diperoleh data bahwa kadar air benih jagung adalah 15,7% dan benih kedelai adalah 9,3%.

Pada pengukuran kadar air dengan metode oven, praktikan membutuhkan waktu yang lebih banyak lagi karena benih harus disimpan dalam oven selama 48 jam. Yang dilakukan pertama kali adalah menyiapkan benih padi sebanyak 20 gram, benih kedelai 100 biji dan benih jagung 20 biji. Ulangan yang digunakan sama seperti pada pengukuran dengan menggunakan timbangan elektrik yaitu 3 ulangan. Langkah selanjutnya adalah memasukkan benih-benih tersebut ke dalam kantong plastik dan disimpan di oven 700 C selama 48 jam. Setelah  48 jam dan sudah kering mutlak benih padi, kedelai dan jagung ditimbang. Untuk mengetahui kadar air benihnya adalah dengan menggunakan mengurangi berat benih awal dengan berat benih akhir dan dibagi berat benih awal. Dari hasil pengamatan ini diperoleh data bahwa rerata kadar air benih padi adalah 11,7%, kadar air benih jagung adalah 14,9% dan kadar air benih kedelai adalah 7,9%. Dari data ini diperoleh perbedaan antara kadar air benih yang diukur dengan menggunakan timbangan elektrik dan dole moisture tester dengan yang diukur dengan menggunakan metode oven.

Komposisi kimia mempengaruhi kadar air keseimbangan benih dengan lingkungan. Hal ini tidak lain karena benih bersifat higroskopik. Karena itu benih akan menyerap kelembaban dari atau melepaskan kelembaban yang dimilikinya kepada atmosfer di sekelilingnya sampai terjadi suatu keseimbangan antara kadar air benih dengan kelembaban relatif dari atmosfer lingkungan. Jumlah kelembaban dalam benih pada saat keseimbangan itu berkaitan langsung dengan komposisi kimia benih. Kadar air keseimbangan bebih berpati tinggi jagung seperti pada data pengamatan di atas lebih tinggi daripada yang dicapai oleh benih berminyak tinggi kedelai. Hal ini masuk akal karena lemak atau minyak tidak dapat bercampur dengan air. Karena iru jika kadar air benih jagung atau kedelai seberat 100g diukur, maka mengingat perbedaan dalam kandungan minyak antar keduanya akan didapatkan bahwa kira-kira 96% dari bahan jagung akan menyerap air, sedangkan pada kedelai hanya kira-kira 80%.

Terdapatnya kadar air dalam benih ialah karena adanya dua tipe yang mengikatnya yaitu, air yang terikat secara kimiawi dan air yang terikat secara fisik. Yang terikat secara kimiawi, dimana air dalam hal ini merupakan bagian dari komposisi kimia benih. Dapat dikatakan jarang dilakukan atau sama sekali tidak dilakukan baik untuk mengurangi atau menghilangkannya, karena untuk itu berarti harus mengubah struktur benih. Yang terikat secara fisik, dimana air itu memang diserap yang selanjutnya air itu diikat pada permukaan material oleh kekuatan fisik yang kuat, karena adanya tarik-menarik antara molekul material dan air, diikat dalam ruangan yang terdapat sekeliling bagian dalam dari masing-masing biji baik dalam bentuk cairan maupun uap.

Kadar air benih adalah menyangkut air yang terikat secara fisik dan dinyatakan pada material basah atau kering. Cara penentuan kadar air benih pada garis besarnya dapat digolongkan atas metode dasar dan metode praktek. Pada metode dasar, benih itu dikeringkan atau dipanaskan pada temperatur tertentu sehingga mencapai berat yang tetap, kehilangan berat sebagai akibat pemanasan atau pengeringan itu selanjutnya ditentukan dan  dianggap kadar air benih asal. Pada metode praktek, penentuan kadar air benih berdasarkan atas sifat konduktifitas dan dielektrik benih, yang kedua sifat ini tergantung dari kadar air dan temperatur benih. Pada metode dasar antara lain termasuk metode tungku  (oven method). Pada metode praktek antara lain elektrik moisture tester.

Metode oven, pada dasarnya contoh benih dipanaskan pada temperatur dan waktu tertentu. Pada praktikum ini praktikan menggunakan oven 700 C selama 48 jam sampai mencapai berat tetap. Kehilangan berat sebagai akibat pemanasan ini ditentukan dan dianggap kadar air benih asal. Elektrik moisture tester, dengan alat ini ditentukan kadar air benih berdasarkan atas sifat konduktifitas dan dielektrik benih, yang keduanya tergantung dari kadar air dan temperatur benih. Penentuan kadar air benih dengan menggunakan alat ini dapat berlangsung dengan cepat.
Untuk mengukur atau memperkirakan kadar air benih pada tiap kelembaban relatif lazimnya dimanfaatkan gambaran grafis dari hubungan antara kadar air benih dan lembab relatif lingkungannya pada suatu waktu, pada suhu yang konstan yang disebut juga isotherma absorpsi yang dibagi menjadi 3 fase.

Fase 1, pada fase ini ditunjukkan  bahwa air yang secara erat diikat oleh benih itu sesungguhnya adalah merupakan bagian dari susunan kimiawi benih, untuk menguranginya perlu dibantu dengan sedikit perusakan pada jaringan benih. Pada fase inipun berlangsung pengikatan air sebagai molekul dalam ikatan interaksi dengan molekul-molekul jaringan benih. Fase 2, pada fase ini pengikatan tidak seerat pada fase 1. Bagi kebanyakan benih, bagian dari keseimbangan air ditunjukkan oleh hubungan secara garis lurus antara kelembaban relatif dan kadar air. Air yang ditunjukkan pada fase ini  sangat mudah dikurangi yaitu dengan pengeringan. Fase 3, pada fase ini air ternyata demikian lemahnya diikat oleh benih, yaitu yang merupakan air dalam ruang antar sel dan antar jaringan, kandungan air ini harus dihilangkan. Penghilangan kandungan air ini karena kalau tetap ada dapat menyebabkan terjadinya kemunduran benih secara cepat.

VI.    KESIMPULAN

a.    Kadar air benih jagung lebih tinggi daripada kadar air benih padi dan kedelai.
b.    Kadar air benih berpati tinggi seperti jagung dan padi lebih tinggi daripada kadar air benih berminyak tinggi kedelai.
c.    Kadar air keseimbangan benih berhubungan terbalik dengan kandungan minyak pada benih.
d.    Pati mempertahankan pengaruh relatif yang sama pada kadar air benih.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar